Tampilkan postingan dengan label Karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2020

Tingkatkan skillmu, tingkatkan added valuemu


Hai gaes, bagaimana kabarnya? Semoga postingan ini menjumpaimu saat kamu sedang panas-panasnya berjuang di dunia kerja atau justru sedang berada di titik kebosanan mengirim lamaran kerja kemana-mana, tapi belum ada yang nyantol-nyantol juga.

Kadang ada yang berfikir, kita sama-sama makan nasi, sama-sama punya waktu 24 jam sehari, tapi koq beda gaji dan pendapatannya ya? Dianya punya jabatan dan kedudukan tinggi, kita mah tetep bagai remahan rengginang, berada di posisi bawah sejak mulai masuk kerja. Nggak ada peningkatan.

Yang masih nganggur juga bingung demikian halnya.. Apa yang membedakan ya???

Skill. Ya skill ! Skill atau keahlian inilah yang membedakan "harga" kita dibandingkan yang laennya... Orang yang memiliki keahlian dibayar lebih dibandingkan yang lain. Bahkan orang yang punya keahlian khusus dan langka, dibayar fantastis! Orang yang punya skill mengelas dengan baik di bawah air di kedalaman, dibayar jauh lebih mahal dibandingkan yang bisa ngelas di bengkel las karbit atau listrik pinggir jalan. Mereka dibayar per jam. Bisa mencapai 26,32 dollar Amerika ( sekitar Rp 370.000,- ...) , sedangkan upah tahunan mencapai 54.750 dollar Amerika (sekitar 771 juta !!!). Kalo nggak percaya klik di sini beritanya. Keahlian ini mahal. Diperolehnya penuh perjuangan dan pengorbanan. Butuh waktu. Butuh latihan kontinyu. Nggak menyerah bila gagal. Terus mencoba dan berlatih.. hingga taraf master di bidangnya...

Inilah added value itu...nilai tambah dirimu yang menjadi pembeda dibandingkan pesaingmu...

Carilah di ceruk pasar mana kamu mau ikut berkompetisi, kemudian cari keahlian yang dibutuhkan sesuai requirementnya, pelajari, latih, dan kuasailah ! Semoga kamu bisa segera mendaoatkannya. Ingat. Tidak ada kata terlambat untuk mencoba.

Semoga sukses selalu ya...

Jumat, 20 November 2020

Pentingnya Role-Play Untuk Melatih Kemampuan Komunikasi


Hal yang menakutkan banyak orang ternyata salah satunya harus berbicara di muka umum, pidato, presentasi, ataupun berceramah. Pun demikian bagi sebagian orang bila berhadapan dengan orang yang baru ditemui. Walaupun itu melalui saluran telepon sekalipun. Termasuk di antaranya saat interview kerja.

Alhamdulillah, sebenarnya saat ini banyak media pembelajaran yang ada yang bisa menambah wawasan kita tentang cara berkomunikasi yang baik dan efektif. Bisa melalui media sosial, youtube, website, ataupun yang lainnya. Sayangnya, membaca ataupun melihat videonya saja tidaklah otomatis membuat kita menjadi terampil dan handal dalam berkomunikasi.

Yang terpenting lagi adalah prakteknya. Atau kalau perlu melakuan role-play, latihan peran, di mana ada yang berperan sebagai pendengar, yang lain berperan sebagai pembicara. Di situ ada banyak manfaat yang didapat. Melatih keberanian, mendapatkan input dari pendengar, persiapan bisa lebih matang, kalau ada salah-salah, tidak terlalu malu atau khawatir ditertawakan orang lain.

Carilah partner atau pasangan yang bersedia menjadi pendengar yang baik, dalam artian mampu memberikan masukan atas kekurangan penyampaian kita.

So, selamat mencoba dan sukses selalu ya!

Senin, 27 Januari 2020

8 Cara Simpel yang Bikin Kamu Lebih Disukai Bos

Mau mengambil hati atasan? Berikut delapan cara agar kamu disukai bos. 
Jakarta - Biasanya bos akan menyukai seseorang yang bekerja dengan bagus. Tapi kadang bekerja keras saja belum cukup untuk menarik perhatian atasan. Menurut para pakar, kamu juga harus tahu cara mengambil hati bos dengan trik-trik khusus. Bukan untuk menjilatnya sehingga menaikkan karier kamu, cara-cara ini juga bisa diterapkan untuk memperkuatkan hubungan dan kerja sama tim.

1. Sesuaikan Gaya Komunikasi
Anda mungkin ingin lebih dekat dengan menarik hati bos, terlebih jika Anda memang seorang anak baru di kantor. Salah satu caranya adalah menyesuaikan gaya komunikasi agar bisa lebih klik dan dimengerti. Bukan berarti harus mengubah diri tapi pastikan saja bahwa tidak akan ada kesalahpahaman. Misalnya jika bos adalah tipe yang perlu selalu tahu apa yang sedang dikerjakan, Anda pun sebaiknya menyesuaikan.

2. Minta Saran
Jangan ragu untuk meminta saran bos. Selain bisa dapat ilmu, hal ini bisa bikin Anda lebih disukai. Menurut riset Harvard Business School, bertanya tidak membuat Anda terlihat bodoh tapi malah menunjukkan kompetensi.

3. Bilang Terima Kasih
Penting untuk menunjukkan rasa terima kasih pada bos meskipun hal tersebut merupakan kritikan. Dengan begitu, bos akan mengetahui bahwa Anda memang mendengarkan dan menghargai hal-hal yang dilakukannya untuk kebaikan bersama.

4. Membanggakan Bos
Maksud dari membanggakan bos bukanlah memujinya di depan orang-orang. Namun Anda harus bisa menjadi sosok yang membanggakan dan bisa diandalkan agar ia pun terlihat bagus di depan atasan-atasannya. Untuk itu, sebelumnya ketahuilah apa yang diharapkan bos dari Anda dan pastikan Anda dapat melakukannya dengan baik.

5. Perhatikan Detail
Bos tentu akan menyukai orang-orang yang tak perlu harus selalu diminta untuk melakukan sesuatu. Karena itu, Anda perlu lebih perhatikanlah detail-detail apalagi yang sering dilewatkan rekan lainnya. Dengan begitu, pekerjaan bos menjadi lebih mudah dan itu pasti akan membuatnya menyukai Anda.

6. Liburan
Berdasarkan analisa Oxford Economics, orang yang mengambil semua jatah cuti punya kesempatan dapat promosi 6,5% lebih tinggi. Dan seseorang yang dapat promosi biasanya disukai bos karena punya performa bagus. Artinya liburan bisa membantu Anda bekerja lebih baik. Menurut riset, liburan membuat pikiran lebih segar sehingga hadir ide-ide baru.

7. Kemukakan Pendapat
Jangan sembunyikan opini untuk diri Anda sendiri. Jika ada ide atau mungkin komplain, sampaikan saja pada bos. Tak perlu takut terdengar bodoh karena kebanyakan bos pasti akan menghargai mereka yang terlihat peduli dengan pekerjaan.

8. Selesaikan Masalah Sendiri
Cara lain yang bisa bikin Anda disukai bos adalah dengan menyelesaikan masalah sendiri. Sebelum mengeluhkan sebuah problema, ada baiknya cari tahu sendiri bagaimana solusinya. Apalagi jika Anda juga bisa membantu permasalahan bos. Karena dengan begitu, beban bos jadi lebih ringan yang bisa membuat Anda lebih difavoritkan.

Penulis  Rahmi Anjani 

Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Selasa, 08 Oktober 2019

Inilah Kualitas Pekerja Terbaik Menurut Steve Jobs

Resume yang sempurna, pakaian yang mengesankan saat wawancara, dan berhasil menaklukan semua pertanyaan wawancara ternyata tidak menjamin Anda menjadi karyawan terbaik. Menurut Steve Jobs, ada satu kualitas tidak biasa yang harus dimiliki pekerja. Dan itu semua lebih dari sekadar resume atau kemampuan menaklukan wawancara. 

Steve Jobs pernah merekrut beberapa manajer profesional untuk perusahaannya yang sedang berkembang. Tapi, dalam sebuah video Steve Jobs berkata bahwa kebanyakan dari mereka hanyalah kumpulan orang bodoh. "Mereka tahu bagaimana mengelola, tapi mereka tidak tahu cara bertindak," ucapnya.
Dari kejadian ini, Steve Jobs menggunakan cara yang berbeda untuk merekrut pegawai. "Kami menginginkan orang-orang yang sangat hebat dalam hal yang mereka lakukan, tapi, belum tentu profesional berpengalaman," ucapnya. "Namun, siapa yang tahu antusiasme dan passion mereka, pemahaman terkini tentang di mana teknologi dan apa yang bisa mereka lakukan dengan teknologi itu," tambahnya. 

Dengan kata lain, Steve Jobs menginginkan orang-orang yang memiliki passion untuk bekerja bersamanya. Karyawan yang antusias tidak hanya dapat mengelola diri mereka sendiri, tetapi juga memahami misi perusahaan dan berusaha mencapai tujuan bersama dengan sungguh-sungguh. Untuk menemukan karyawan yang memiliki passion, tim Apple mewawancarai setiap kandidatnya dengan menghadirkan prototipe Macintosh yang merupakan salah satu produk Apple dan mencatat reaksinya. "Kami ingin melihat mata mereka bercahaya dan menjadi bersemangat. Lalu kami tahu mereka adalah salah satu dari kami," ucap Andy Hertzfeld, salah satu insinyur software pertama Apple. 

Memiliki keterampilan ini dapat membantu Anda sukses dalam segala jenis tempat kerja. Memberikan kesan yang baik tidak berhenti saat Anda berhasil melalui wawancara kerja saja.

Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Senin, 07 Oktober 2019

7 Tanda Kamu adalah "Pegawai Kesayangan Bos"

Pernahkah kita bertemu dengan atasan yang terbuka, dan menunjukkan apa yang dirasa atas kerja bawahan secara langsung? Tipe bos semacam ini seringkali melontarkan pujian ketika bawahan dinilai sukses merampungkan tugasnya. Bos semacam ini pun biasa memberikan umpan balik yang positif dan terperinci. Metode semacam itu dipercaya mampu membuat bawahan merasa memiliki peran tak kalah penting dalam kesuksesan perusahaan. 

Sayangnya, tidak semua pimpinan di tempat kerja akan berbuat yang sama. Ada tipe bos yang sulit untuk diprediksi, apakah dia puas atau malah kecewa. Nah, karena tidak semua atasan bersikap terbuka, maka tidak ada salahnya jika kita langsung meminta umpan balik.
 
Tapi, sebelum melakukan hal itu, ada beberapa tanda yang bisa kita cermati yang mungkin menunjukkan tanda apakah atasan terkesan dengan kinerja kita. Inilah tanda-tanda tersebut. 

1. Memberi peringatan 
Suzanne Bates, CEO Bates Communications dan penulis All the Leader You Can Be, mengatakan, memang sulit untuk mengetahui apakah atasan menyukai kita atau tidak. "Tapi, seorang atasan yang melihatmu sebagai orang yang menjanjikan dapat memberimu banyak umpan balik, tidak semuanya positif. Beberapa di antaranya mungkin adalah peringatan, masukan, justru karena dia melihatmu sebagai seseorang yang dapat mengatasi beban tugas, dan siap untuk lebih bertanggung jawab," ucap Bates. 

2. Meminta masukan 
Bruce Tulgan, pendiri Rainmaker Thinking dan penulis It's Okay to Manage Your Boss, mengatakan, bos sering meminta saran kepada karyawan yang mereka sukai dan percaya. "Jika atasan sering meminta masukanmu secara pribadi atau dalam pertemuan kelompok, dan menyisakan banyak waktu untuk mengajakmu bicara, lalu merespons dengan baik apa yang Kamu katakan -ini adalah tanda yang baik," ucap dia.  

3. Tak selalu memberi pujian 
Kita mungkin berpikir bahwa seorang pemimpin akan selalu memuji karyawan yang disukai. Namun, Bates mencatat bahwa hal ini tidak selalu terjadi. "Bos mengira kamu sudah tahu bahwa reputasimu sudah baik, mereka hanya tidak ingin menunjukkannya. Atau, dia lupa karena terlalu banyak prestasi yang sudah kamu lakukan," ucap dia. 

Dalam kondisi semacam ini, Bates merekomendasikan agar kita meminta dia memberi umpan balik dan menjelaskan bagaimana kinerja kita. Senada dengan Bates, Tulgan juga mengatakan, karyawan memang seharusnya berinisiatif untuk meminta umpan balik pada pimpinannya. "Kamu harus selalu memastikan bahwa kamu mendapatkan ekspektasi yang jelas, dan kamu harus memantau kinerjamu setiap saat," ucap Tulgan. Setelah mendapatkan umpan balik dari kinerjamu, Tulgan menyarankan agar kita mempertahankan atau malah memingkatkan kinerja baik. 

4. Memberi lebih banyak tanggung jawab 
Atasan sering kali memberi kepercayaan lebih kepada mereka yang dianggap paling berbakat. Kita mungkin tidak akan mendapatkan lencana bintang emas, tapi kita akan bertanggung jawab atas proyek penting. Bahkan, kita juga bertanggung jawab atas kinerja rekan kerja lain. Ini merupakan bentuk kepercayaan yang baik.  

5. Menghargai lebih 
Ketika teman-teman kerja kita berjuang untuk memperbaiki kinerja, atasan kita malah meminta rekan kerja yang lain untuk menemui kita, demi mendapatkan contoh yang bagus "Jika atasanmu menyuruh orang lain menemuimu untuk mendapatkan panduan atau instruksi atau contoh kerja bagus, ini pertanda baik," kata Tulgan.  

6. Sering 'memeriksa' kehidupan 
Tulgan mencatat bahwa bos akan selalu berusaha untuk 'memeriksa' pekerja yang dia sukai. Dia akan bertanya tentang apa yang membuat kita bahagia, apakah kita berencana untuk pergi, dan bagaimana caranya agar perusahaan membuat kita betah. Ingat, bos itu tidak sedang menginterogasi. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar kita betah bekerja di perusahaan yang dia pimpin. Itu bagus.  

7. Meminta untuk mengajari rekan kerja lain 
Jika atasan kita terus-menerus meminta untuk menjelaskan hal-hal seputar pekerjaan untuk pegawai baru, mungkin ini akan terasa seperti menambah tugas. Tapi, atasan kita mungkin juga sangat terkesan dengan kemampuan kita, sehingga dia menginginkan kita membagikan ilmu. Alih-alih melihat permintaan ini sebagai pekerjaan ekstra sibuk, gunakan ini sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan menunjukkan keahlian di kantor.

Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Selasa, 25 Juni 2019

Jurusan dan Pekerjaan Paling Dibutuhkan 2020

Disruptif teknologi, perubahan iklim, robotika, keterbatasan sumber daya alam, energi terbarukan, sharing economy dan pengolahanan data merupakan tantangan sekaligus peluang yang membentuk cara orang bekerja hari ini dan karir masa depan. Beberapa faktor di atas dapat menjadi pertimbangan dalam memilih jurusan kuliah atau pilihan karir di masa depan.  Macquarie University, peringkat 9 universitas terbaik di Australia dan peraih bintang 5 dari QS World University Ranking, memetakan program studi dan pekerjaan yang paling dibutuhkan pada tahun 2020 mendatang:

01. Teknik Informasi 

Australia saja diperkirakan telah menghabiskan $ 1 miliar per tahun untuk biaya keamanan  data dari serangan di dunia maya. Tidak mengherankan para ahli keamanan cyber diminati di seluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir, permintaan untuk intelijen dan analis kebijakan data telah tumbuh sebesar 21,4%. Permintaan ini masih jauh dari kebutuhan di berbagai industri termasuk teknologi, hiburan, telekomunikasi, perbankan, keuangan dan akuntansi sehingga kualifikasi keamanan cyber menjadi pilihan karir yang menarik dan menjanjikan.  

Kesempatan untuk mengembangkan karir di bidang ini sangat luas.  Banyak universitas memberi perhatian khusus dalam bidang ini dengan memberikan mahasiswa yang sedang belajar baik sarjana atau pascasarjana dengan semua pengetahuan yang mereka butuhkan untuk menciptakan lingkungan keamanan cyber  yang efektif untuk komersial, aplikasi pribadi dan industri. 

Diperkirakan, permintaan untuk para profesional ICT (informasi, komunikasi dan teknologi) akan meningkat hingga 26,5% pada tahun 2020.  Karenanya, mengejar gelar sarjana dalam Teknologi Informasi atau master di Teknologi Informasi merupakan pilihan yang tepat bagi yang tertarik pada bidang ini. 

Baca juga: Bagaimana Agar Karir Cepat Menanjak?

02. Akuntansi, bisnis dan matematika 

Permintaan untuk profesional akuntansi dan keuangan telah meningkat sebesar 44% dan akan tumbuh sebesar 22% pada tahun 2020
Tidak mengherankan bidang studi akuntansi, bisnis dan manajemen masih memiliki peminat hingga saat ini.  Yang hampir luput perhatian adalah naiknya kebutuhan profesional bidang studi matematika dan juga statistik sebesar 10% untuk tahun 2020. 

Matematika dan statistik secara kualitatif dan kuantitif telah menjadi sebuah kebutuhan dalam sektor bisnis dan keuangan terkait dengan pengolahan data di era digital yang semakin berkembang. 

03. Ilmu kesehatan dan psikologi 

Meningkatnya jumlah dan kepadatan populasi dunia mengiringi meningkatnya pula tenaga profesional bidang kesehatan, baik dokter maupun tenaga medis lain. Diprediksi 40% lebih banyak tenaga profesional layanan kesehatan fisik dan mental akan dibutuhkan pada 2020. 

Tidak hanya secara medis, peningkatan populasi juga ternyata membawa dampak dan pengaruh pada kesehatan mental sehingga sarjana dalam bidang psikologi juga akan meningkat kebutuhannya di masa mendatang.  Perubahan dalam masyarakat dunia ini membuat pilihan program studi ilmu kesehatan dan juga psikologi memberikan jaminan pekerjaan di masa depan. 

04. Desain komunikasi dan media 

Peningkatan kebutuhan akan tenaga profesional di bidang kreatif sebanyak 15% di tahun 2020 diperkiraan berasal dari bidang periklanan, pemasaran dan juga hiburan. Kombinasi antara kemampuan mengomunikasi pesan dan juga memasarkan menjadi salah satu peluang karir di masa mendatang. Pilihan program studi seperti desain komunikasi, seni, jurnalistik, film atau bidang lain terkait industri kreatif telah menciptakan peluang kerja yang lebih besar seiring dengan tumbuhnya budaya digital. 

Baca juga : Ingin Sukses dalam Karir? Asah Kecerdasan Emosional Anda

05. Teknik, hukum dan guru 

Beragam profesional di bidang teknik (elektro, mesin, robotika dan lainnya) masih menjadi 'tulang punggung' perkembangan revolusi industri 4.0 sehingga masih diprediksi pertumbuhan 22% lebih untuk para insinyur di tahun 2012 baik dari jenjang sarjana maupun pascasarjana. Yang menarik, diprediksi pula peningkatan kebutuhan 17,6% lebih banyak pengacara pada 2020 sehingga pilihan program studi ilmu hukum di tingkat sarjana atau master masih sangat relevan nantinya. 

Hasil pemetaan yang menarik justru muncul dari permintaan profesional bidang pendidikan yang akan terus melampaui profesi lain pada tahun 2020. Permintaan untuk profesional pendidikan usia dini akan meningkat sebesar 27%, dan guru pendidikan sebesar 21%. Nampaknya, jurusan ilmu pendidikan akan menjadi trend baru di tahun-tahun mendatang.  

Penulis : Yohanes Enggar Harususilo

Senin, 24 Juni 2019

Cara Menemukan "Passion" dalam Karier

Masih bingung menemukan passion Anda dalam karier? Boleh jadi Anda bukannya tidak tahu, tetapi sebenarnya tidak peduli. Menurut CarrerCoach Rene Suhardono, menemukan passion dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan kegiatan baru, bertemu orang baru, atau makan makanan baru. "Kunci utama yang harus dimiliki seseorang dalam menemukan passion adalah antusiasme," jelas Rene, dalam bukunya Your Job Is Not Your Career. 

Menemukan passion tak harus meninggalkan pekerjaan Anda saat ini. Bahkan, kata Rene, passion bisa dikembangkan dari pekerjaan yang sekarang. Kembali lagi, kuncinya terletak pada diri sendiri dan bersikap antusias dengan kehidupan dan karier yang Anda miliki.
Percaya diri dan berani 
Anda perlu meyakini bahwa dalam diri Anda memiliki keunikan dan keistimewaan. Bahwa ada potensi dari dalam diri yang bisa dikembangkan. Keyakinan diri dan keberanian untuk menggali potensi diri inilah yang perlu dimiliki jika ingin menemukan passion Anda. 

Lebih peka dengan perasaan Anda 
Passion tak sulit ditemukan dari dalam diri asalkan Anda lebih peka terhadap diri sendiri. Bersikap lebih terbuka untuk tahu, merasakan dan jujur mengenai segala hal yang dikerjakan, membuat hati lebih lega, lepas, dan gembira. Nah, saat inilah Anda semakin mendekati apa sebenarnya yang menjadi passion. Saat Anda merasa senang, puas, dan antusias dalam melakukan sesuatu, di situlah letak passion Anda yang berasal dari ketulusan hati. Jika sudah seperti ini, tinggalkan faktor yang memperumit Anda menemukan passion, seperti uang, kekuasaan, jabatan, atau lainnya. 

"Passion bukan bicara apa yang Anda sukai, tetapi lebih kepada apa yang Anda rasakan saat melakukan sesuatu," jelas Rene. 

Memperluas wawasan 
Mencoba berbagai kegiatan atau pengalaman baru bisa membantu Anda menemukan passion. Pertemuan dengan orang baru, berkenalan dan berdiskusi dengan mereka menjadi sarana Anda dalam menemukan passion. Atau kegiatan sederhana lain seperti belajar bahasa asing baru, mencoba menu makanan baru di restoran langganan, mengunjungi tempat yang belum pernah Anda datangi, melakukan kebiasaan baru. Apapun bentuk dan caranya, dalam setiap kegiatan baru tersebut Anda terbantukan dalam menemukan apa sebenarnya panggilan hati Anda. 

Lakukan dengan total 
Agar bisa menemukan passion, Anda perlu mengupayakannya total dan tidak setengah-setengah. Bahkan Anda perlu memikirkannya setiap saat. Seperti dikatakan sebelumnya, Anda perlu lebih peka. Bisa jadi, saat Anda sedang melakukan suatu kegiatan, Anda menemukan pertanda panggilan hati. 

Selalu antusias dan bersikap positif 
Jangan patah arang atau emosi jika Anda belum juga menemukan passion. Ingat, bahwa kunci menemukan passion adalah antusiasme. Pupuk antusiasme dalam diri dan selalu berpikir positif. Bahwa, suatu saat Anda berhasil menemukan passion dan menjalaninya dengan senang hati. 

Nikmati prosesnya 
Apapun yang sedang Anda jalani merupakan proses perjalanan hidup dan karier Anda. Jadi, nikmati saja proses penemuan passion dalam karier. Karena banyak orang yang juga menjalani proses yang sama dalam kurun waktu tahunan. Tak ada cara instan menemukan jati diri termasuk dalam kaitannya dengan karier Anda.

Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Minggu, 23 Juni 2019

Talent ‘T’ Penguasa Masa Depan Dunia Kerja? Siapa Mereka?

Salah satu perdebatan yang sering muncul di kalangan profesional saat ini adalah siapa talent yang akan lebih menguasai pangsa kerja di masa depan. Apakah itu orang-orang generalis atau spesialis?

Generalis adalah mereka yang memiliki beberapa skill serta memahami berbagai hal dalam satu bidang atau lebih. Misalnya saja seorang tukang kayu yang bisa membetulkan pipa bocor atau atap yang bocor. Atau seorang marketer yang dapat menguasai beberapa platform pengiklanan dari mulai sosial media, televisi hingga platform iklan jenis lain.

Orang-orang dengan tipe generalis tersebut sangat cocok dengan tipe ekonomi freelance atau jenis pekerjaan yang tidak terikat. Akan lebih mudah bagi mereka untuk memasarkan  diri mereka. Hanya saja, si generalis memiliki kelemahan bahwa ketika mereka bisa melakukan segala hal, mereka tidak memiliki keterampilan mendalam dalam satu bidang. Dikarenakan telah mempelajari banyak hal, kemungkinan untuk menguasai suatu keterampilan secara mendalam dan keseluruhan menjadi lebih kecil.

Baca juga: Agar Lolos Wawancara Kerja, Jangan Lakukan 4 Hal Ini

Sebaliknya, kaum spesialis adalah mereka yang sangat fokus pada satu bidang dan menguasai bidang tersebut dengan sangat baik. Beberapa contoh tipe spesialis ini antara lain ahli kelistrikan atau programmer. Keuntungan yang diperoleh apabila Anda merupakan tipe spesialis adalah Anda bisa menciptakan personal brand yang akan dengan mudah dikenali orang lain. Sehingga ketika seseorang mendapatkan sebuah masalah dan memerlukan solusi terpercaya, ia akan langsung mengingat nama spesialis ini.

Namun, tipe ini pun memiliki kekurangan. Misalnya saja ketika mereka dihadapkan pada jenis pekerjaan yang membutuhkan lebih dari sekedar keahlian khusus, tetapi pemahaman terhadap keseluruhan tema dalam bidang yang sedang dikerjakan. Menguasai satu jenis keahlian secara mendalam memang dapat membuka beberapa kesempatan. Namun, di sisi lain juga menjadi limitasi karena harus fokus pada satu area saja.

Lantas jika dibandingkan, mana yang lebih unggul dalam persaingan tenaga kerja di masa mendatang? Ternyata bukan salah satu di antara keduanya. Dan untuk memenangkan persaingan, setiap orang harus dapat memadukan keduanya.

Menjadi talent yang berwawasan dan juga ahli dalam satu bidang, layaknya huruf ‘T’. Garis atas horizontal pada huruf T melambangkan pengetahuan yang luas sedangkan garis vertikal melampangkan kedalaman keterampilan yang dimiliki. Tipe karyawan ini disebut sangat ideal karena mereka memiliki basis yang kuat tentang pengetahuan secara general. Di sisi lain, ia juga memiliki keterampilan yang mumpuni untuk memberikan sebuah solusi terhadap suatu masalah. Sangat penting bagi kita untuk disiplin dan fokus sehingga diri makin berkembang dan kemampuan semakin bertambah.

Masa depan dari dunia kerja tentunya akan menghadirkan perubahan baik itu secara drastis mapun dalam batas wajar. Namun, dengan bekal kemampuan terpola huruf T tersebut, seorang talent tidak perlu lagi khawatir akan kalah dalam persaingan.

Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Kamis, 20 Juni 2019

Cara Terbaik Memperbaiki Hidup Yang Stuck

Artikel ini saya peroleh dari blog yang apik banget, yakni Blog Strategi + Manajemen  , recommended untuk rutin dikunjungi. Selamat membaca artikel ini: 

Nasib Hidupmu Stuck Karena Anda Gagal Lakukan Dua Langkah Ini !!!

Dalam artikel yang kita ulas tiga minggu lalu, kita telah mengulas tentang kenapa sebagian orang yang stuck cenderung akan stuck selamanya. Nasib muram seolah menjadi teman setia yang menyertainya hingga waktu yang amat panjang.

Kenapa orang yang nasibnya stuck akan cenderung stuck selamanya?

Sebab mereka terpelanting dalam jebakan inertia syndrome dan terkapar dalam kutukan loser effect.

Inertia syndrome seperti yang telah kita ulas adalah sejenis resistensi atau kemalasan dalam diri kita sebagai manusia untuk memulai sebuah perilaku baru, dan keluar dari comfort zone yang ada selama ini. Kita cenderung lebih menyukai kondisi kenyamanan yang selama ini kita jalani.

Sementara loser effect adalah fenonema ketika kegagalan pertama yang kita alami, akan memunculkan rentetan kegagalan berikutnya. Kenapa? Karena kegagalan pertama akan menghancurkan rasa percaya diri kita, dan juga modal yang mungkin kita miliki.

Dan saat rasa percaya diri goyah, sementara sumber daya finansial makin tergerus, Anda akan amat mudah tenggelam dalam stagnasi yang berkepanjangan.

Rasa trauma akan kegagalan, rasa kecewa karena harapannya tak jadi kenyataan, serta rasa sedih karena mengalami kerugian waktu dan finansial yang tidak sedikit; membuat kita menjadi sulit untuk bangkit. Akhirnya, kita merasa hidup kita stuck dalam kisah kelam nan perih.

So what? Apa yang layak dilakoni agar kita bisa menghindar jebakan inertia sydnrome dan kutukan loser effect?

Ada dua solusi yang kiranya layak dipertimbangkan. Mari kita bedah satu demi satu.

Solusi #1 : Start Small. Massive Action is Wrong Advice.
Selama ini ada sejumlah motivator yang tidak berbasis science yang suka mengajurkan kalimat seperti ini : jika Anda ingin mengubah nasib hidup Anda, maka lakukan massive actions. Take massive actions. Ini nasehat yang salah sebenarnya.

Studi-studi saintifik (based on science) menunjukkan perubahan perilaku dan nasib hidup Anda justru akan jauh lebih mungkin sukses jika Anda mengawalinya dengan small steps. Tagline yang digunakan disini adalah : take simple action and small steps.

Dengan kata lain, impian heroik untuk mengubah nasib itu mesti di-breakdown menjadi satuan langkah kecil yang mudah dilakukan.

Contoh dulu saya punya keinginan membangu blog bisnis yang legendaris. Kelihatannya sangat heroik dan butuh massive actions. Kenyataannya tidak. Saya hanya memulai dengan langkah kecil yang sederhana. Yakni saya cukup bisa menulis 500 kata per minggu saja agar bisa selalu update tiap Senin pagi.

Contoh lain lagi : tempo hari ada follower saya yang bilang memulai usaha jualan cake coklat dengan langkah awal yang simpel. Dia iseng membuat cake dan lalu membagikannya saja sama teman dan saudara untuk mencobanya. Ternyata banyak yang suka. Lalu pelan-pelan dia bikin akun Instagram, dan terus lakukan langkah-langkah kecil sederhana : rajin upload, belajar resep baru, dst, dst.

Contoh lain lagi bagi yang ingin langsing : misal alih-alih berambisi untuk membentuk perut six packs dan lalu bertekad melakukan massive actions, maka lebih baik lakukan langkah yang sangat simpel mulai besok, yakni : cukup lakukan push up satu kali saja. Ya cukup satu kali saja per hari.

Start small actions dan simple steps memiliki dua manfaat dramatis.




Yang pertama, ingat, kita semua itu cenderung malas melakukan action baru, apalagi yang ribet dan rumit. Kita maunya yang mudah dan simpel saja. Mengambil small action adalah “motivation hack” untuk mengalahkan inertia syndrome dalam diri kita, agar kita mau bergerak.

Sebab small action yang dilakukan tetap lebih berharga dibanding rencana melakukan massive actions yang cuma omong doang.

Manfaat kedua, start small juga akan membuat risiko kegagalan menjadi lebih mudah diterima. Ini berlaku jika misalnya Anda ingin memulai bisnis sendiri.

Tak jarang sejumlah orang bernafsu langsung menjadi besar saat memulai usaha. Dia lalu menanamkan modal yang sangat besar. Langkah yang amat berisiko. Sebab jika gagal, dia akan menanggung kerugian yang sangat banyak, dan bisa bikin bangkrut seketika. Loser effect akan terjadi.

Memulai usaha dengan skala dan modal yang relatif kecil, akan membuat risiko kerugian bisa dikendalikan dengan baik. Artinya kalaupun gagal, kita tidak akan bangkrut. Kita masih punya amunisi lain yang bisa digunakan untuk bangkit dan melakukan perbaikan diri agar lebih berhasil.

Solusi #2 : Buat Implementation Plan. Just Do It adalah Slogan yang Keliru
Selama ini juga suka ada nasehat, jika Anda ingin mengubah nasib menjadi lebih baik, maka Just Do It. Nasehat ini meminjam tagline iklan Nike yang terkenal.

Sayangnya, berdasar riset-riset dalam science of human behavior, slogan Just Do It adalah slogan yang keliru dan tidak efektif untuk melakukan perubahan perilaku.


Maksudnya, saat Anda punya impian untuk mewujudkan sesuatu, dan kemudian dalam hati cuma bilang : Let’s do it, maka hampir pasti impian itu tetap akan jadi fantasi. Dan tidak akan pernah menjelma menjadi action nyata.

Jadi begini. Dalam beragam riset tentang behavior change, kita akan tergerak untuk melakukan aksi nyata jika :

1) action plan-nya dibreakdown menjadi small steps, seperti yang telah kita uraika diatas. Tetapkan langkah awalan yang kecil dan mudah dilakukan.

2) yang kedua ini juga sangat penting, yakni kita juga harus menetapkan kapan, di mana dan bagaimana small action itu akan dijalankan. Para penelitinya menyebutnya sebagai “Implemention Intention Plan”.

Aspek yang kedua ini sangat krusial, sebab berdasar riset, terbukti akan mampu mendorong Anda untuk benar-benar melakukan rencana action yang mau dijalankan.

Misal : saat ini saya punya personal project yang rada ambisius, yakni ingin menulis 30 buku bisnis berkualitas dalam lima tahun ke depan. Sebuah ambisi yang cukup heroik. Sejak tahun lalu, saya selalu hanya bilang dalam hati : Let’s Do It. Tapi ternyata nggak jalan-jalan. Realisasinya nol besar.

Lalu sejak awal tahun ini saya menerapkan Implemention Intention Plan yang spesifik. Isinya : setiap hari, mulai jam 7 pagi sampai jam 8.30, saya akan menulis 1000 kata. That’s it.

Demikianlah, setiap hari, sebelum bekerja dengan klien (rata-rata saya mulai meeting dengan klien jam 9 pagi), maka saya akan nongkrong di sebuah kafe, dan lalu membuka laptop, dan lalu menulis 1000 kata. Saya melakukan langkah ini tiap hari.

Sebuah langkah kecil jika dilakukan terus menerus pasti akan dramatis juga efeknya. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan jadi bukit, begitu pepatah lama bilang.

Saya percaya dengan pepatah lama itu. Kalau saya bisa menulis 1000 kata per hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, maka Insya Allah dalam 5 tahun saya akhirnya akan bisa menerbitkan 30 buku bisnis yang semoga menjadi karya yang legendaris (bentuknya buku fisik dan akan dijual di Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan toko-toko buku di seluruh Indonesia).

POINNYA adalah : impian Anda yang indah itu harus dipecah dalam satuan small action yang konkrit. Lalu tetapkan rencana tindakannya secara spesifik : kapan, dimana, dan bagaimana Anda akan melakukannya. Penelitinya bilang, small action ini akan makin bagus jika dilakukan secara berulang dan menjadi habit.

Misal : Anda ingin belajar tentang ilmu Facebook Ads, maka tetapkan small action yang spesifik. Misal : tiap pagi jam 7 saya akan belajar dan praktek tentang FB Ads cukup selama 20 menit saja. Atau contoh lain : saya akan baca buku bagus tentang FB Marketing setiap habis Maghrib, cukup selama 15 menit saja.

Kuncinya adalah : mulailah dari langkah kecil yang simpel dan sederhana. Lalu tetapkan jadwal pelaksanaannya secara spesifik, dan lakukan dengan rutin. Cara ini pelan-pelan akan mampu menciptakan efek dramatis bagi perubahan nasib hidupmu.

DEMIKIANLAH, dua solusi ringkas yang layak dijalankan untuk melawan sindrom inertia dan kutukan loser effect.

Start small action. Bukan massive action. Temukan action yang kongkrit dan sangat mudah dilakukan. Memulai usaha dengan skala dan modal kecil juga akan menurunkan risiko terkena kutukan loser effect.

Kemudian jangan terlalu percaya dengan slogan Just Do It. Susun implemention intention plan yang spesifik dan konkrit : di mana dan kapan saja Anda akan melakukan small actions itu. Lalu jadikan action ini sebagai habit baru.

Lakukan dua solusi itu, and see you at the TOP.

Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Senin, 20 Mei 2019

Perhatikan 7 Hal Ini untuk Menjaga Motivasi Kerja Karyawan

Bekerja dalam satu perusahaan bersama banyak tenaga kerja pada era serba modern ini memiliki banyak tantangan. Salah satunya adalah lupa untuk memanusiakan manusia karena terbiasa bekerja dengan mesin dan sistem. Bekerja dengan sesama manusia berarti Anda perlu mengingat bahwa manusia harus memiliki dorongan agar mampu bekerja lebih keras. Sebagai pemimpin atau seorang HRD, motivasi kerja karyawan harus selalu Anda jaga dalam keadaan baik agar karyawan juga bisa bekerja dengan maksimal.
Efek motivasi kerja karyawan yang baik akan memberikan peningkatan kualitas kerja serta pada akhirnya membuat target perusahaan lebih mudah terpenuhi. Munculnya iklim kerja yang mendukung, merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan. Untuk menjaga dan memberikan motivasi kerja pada karyawan, beberapa cara ini bisa Anda lakukan.

Ingin Sukses dalam Karir? Asah Kecerdasan Emosional Anda

Pemberian Insentif

Cara ini merupakan cara klasik yang masih ampuh digunakan. Tawarkan insentif bagi karyawan yang memiliki kinerja baik dan menunjukkan peningkatan hasil kerja. Dengan memberikan insentif semacam ini, motivasi kerja karyawan akan terjaga serta dapat memancing karyawan lain melakukan hal serupa demi mendapat insentif pula. Insentif ini beragam bisa berupa tambahan gaji, promosi, tiket liburan, atau barang-barang lain.

Tunjukkan Kepercayaan pada Karyawan

Dengan menunjukkan kepercayaan pada karyawan, maka Anda telah melakukan upaya untuk menaikkan motivasi kerja karyawan Anda. Pemberian kepercayaan ini akan membawa kesan bahwa Anda membutuhkan karyawan sehingga karyawan akan merasa memiliki tanggung jawab yang harus diemban. Berikan project potensial dengan target yang jelas agar mereka tetap memiliki arah yang jelas dalam bekerja. Jangan ragu untuk turun makan bersama ketika makan siang, hal ini bisa memberikan kesan bahwa Anda orang yang tidak sombong.

Baca juga: Bagaimana Agar Karir Cepat Menanjak?

Uraikan Target Besar Menjadi Target Lebih Kecil

Daripada menyampaikan bahwa perusahaan memiliki target yang besar dalam jangka waktu satu tahun, lebih baik Anda sampaikan bahwa perusahaan memiliki target-target kecil jangka pendek. Target kecil jangka pendek ini merupakan langkah yang dilakukan untuk mencapai target besar tersebut. Secara psikologis, karyawan akan lebih nyaman menerima target kecil ini karena kemudian akan lebih sering muncul kalimat ‘pekerjaan selesai’ dan itu bisa memberikan kepuasan bagi karyawan.

Berikan Tujuan Jelas pada Karyawan

Menjelaskan tujuan besar dari perusahaan pada karyawan penting untuk dilakukan. Hal ini akan memberikan gambaran umum pada karyawan tentang apa yang ingin dicapai. Kemudian berikan target lebih jelas lagi pada setiap karyawan dan bagian dalam perusahaan sehinga setiap tim bisa bekerja pada tugasnya masing-masing dengan performa maksimal. Tekankan bahwa kontribusi setiap tim sangat berharga untuk mencapai tujuan utama dari perusahaan ini.

Sebarkan Energi Positif

Datanglah ke kantor dengan tenaga dan energi positif yang meluap-luap, biarkan karyawan tahu bahwa Anda selalu dalam kondisi senang dan tidak keberatan membantu kesulitan karyawan. Banyak tersenyum dan ajak bercanda beberapa orang supaya iklim kantor Anda terasa hangat dan menyenangkan. Dengan mood yang hangat, maka karyawan juga akan bekerja lebih ringan dan fokus yang lebih baik. Bekerja dengan keras, namun jangan lupa juga untuk play hard. Kunci kinerja yang baik adalah energi positif yang dimiliki oleh semua orang.

Transparan

Tidak menyembunyikan hal yang terjadi dalam perusahaan bisa jadi langkah yang baik untuk menjaga motivasi kerja karyawan. Dengan menunjukkan keterbukaan pada karyawan mengenai hal-hal yang terjadi, maka karyawan akan merasa bahwa mereka juga penting dan memiliki signifikansi dalam perusahaan Anda. Terbuka mengenai hal-hal penting di perusahaan akan menimbulkan efek rasa dipercaya sehingga membuat karyawan Anda semakin loyal.

Baca juga : Kenali Sikap yang Menghambat Karir Anda!

Keseimbangan Kerja dan Hidup

Motivasi kerja karyawan yang baik berasal dari karyawan yang memiliki cukup waktu bekerja dan cukup waktu untuk kehidupannya. Berikan porsi cuti yang sesuai untuk setiap karyawan dan biarkan mereka memiliki kendali atas waktu yang diberikan tersebut. Namun ingat, koordinasikan cuti yang akan diambil agar terhindar dari kantor yang kosong karena semua orang mengambil cuti pada waktu yang sama. Gunakan bantuan aplikasi dan layanan terbaik untuk mengatur jadwal ini.

Maderendika
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Minggu, 19 Mei 2019

Industri 4.0 'Ancam' Keberadaan 35% Profesi Penting

Revolusi industri 4.0 akan menjadi medan yang dihadapi generasi muda Indonesia. Peluang kerja di masa mendatang perlu disiasati dengan cermat.

Dalam rilis Indonesian Diaspora Network (IDN)-United kepada detikFinance, Jumat (5/4/2019) Profesor Herry Utomo dan Ida Wenefrida dari Lousiana State University membedah industri 4.0 di 5 universitas di Indonesia. Universitas itu adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Tunas Pembangunan (UTP) dan Universitas Mataram (Unram).
Kuliah umum yang diberikan mencakup tema riset dan paten, agrikultur 4.0, dan ekosistem kampus yang kompetitif. Universitas-universitas yang terlibat juga mendapatkan akses ke diaspora dunia yaitu IDN-United, Indonesian American Society of Academics (IASA), dan berbagai universitas di Amerika tempat para professor diaspora tersebut berkiprah.

Baca juga : Kenali Sikap yang Menghambat Karir Anda!

Herry Utomo dan Ida Wenefrida menyampaikan industri 4.0 telah memasuki berbagai sendi kehidupan. Efeknya akan semakin luas, mulai dari sektor pertanian, industri, jasa, informasi, maupun kehidupan sosial. Smart grit, self-driving car, atau sistem robotik adalah beberapa contoh proses otomatisasi dan bagaimana komputasi dan elemen fisik menjadi semakin membaur bersamaan dengan penggunaan kecerdasan buatan.

Dalam 3 tahun ke depan diperkirakan 35% dari pekerjaan yang penting saat ini tidak akan diperlukan lagi. Di negara-negara maju pada 2022 saja misalnya, diperkirakan akan kehilangan 73 juta pekerjaan.

Namun, akan muncul 133 juta profesi baru dengan syarat keahlian yang berbeda. Karenanya, tantangannya adalah bukan memerangi pengangguran, tapi bagaimana memenuhi permintaan tenaga kerja berspesifikasi baru secara cepat dan dalam jumlah yang besar.

"Lulusan perlu dibekali keterampilan sosial dan mindset yang siap untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan ini," kata Ida Wenefrida.

Baca juga: Bagaimana Agar Karir Cepat Menanjak?



Industri 4.0 itu tidak datang begitu saja, tapi berfase-fase sesuai dengan pencapaian kapabilitas teknologi yang mendasarinya. Konsekuensinya, kebutuhan keahlian dan kontur lapangan pekerjaan akan berubah-ubah sesuai dengan fase-fase pertumbuhan yang cepat ini. Lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan saat ini diperkirakan perlu 5-7 kali ganti keahlian selama karir profesinya. Sangat kontras dengan kondisi masa lalu dimana spesialiasi bersifat baku dan stabil. Di sinilah filosofi dan strategi pembelajaran perlu disesuaikan. 

"Kurikulum, materi ajar, dan cara pembelajaran perlu dikristalisasi untuk menumbuhkan iklim kreatif, imajinatif, dan problem solving dengan memberdayakan berbagai teknologi ajar terkini yang sudah demikian berkembang, serta memfasilitasi open-collaboration dalam ekosistem kampus yang terbuka dan global," kata Herry Utomo.

Peran network diaspora perlu difungsikan untuk mempercepat proses ini melalui pembimbingan langsung. Konsep dari Herry dan Ida juga menekankan perlunya perakitan unit-unit dasar bahan ajar yang dengan cepat bisa direkonfigurasi sesuai tuntutan dan dibangun dengan menggunakan kreatifitas murni maupun buatan (AI) sebagaimana yang direncanakan dalam program ini.

Kebijakan riset beserta institusi riset nasional yang ada saat ini masih terkesan tua, kaku, dan prosedural. Untuk itu, menurut Herry dan Ida, perlu diremajakan sepadan dengan perkembangan dan kebutuhan Industri 4.0.

Keduanya menambahkan tidak perlu ada keseragaman dalam mensikapi Industri 4.0. Setiap universitas wajib membangun keunggulan lokalnya sendiri. 

Baca juga : Ingin Sukses dalam Karir? Asah Kecerdasan Emosional Anda

Untuk itu, selain keberhasilan dalam menghasilkan produk intelektual (perangkat lunak, kecerdasan buatan, konsep, atau desain), keberhasilan dalam menghasilkan produk unggulan yang convensional seperti varitas, komoditas, mesin, atau produk industri dasar yang lain juga merupakan faktor penting yang akan membedakan apakah bangsa ini akan menjadi pemain dalam Industri 4.0 atau hanya sebatas pengguna saja.

Fitraya Ramadhanny -
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Nyalakan semangatmu !

Hai sahabat, bagaimana kabarnya? Semoga sehat dan baik selalu ya. Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini memang sangat berpengaruh bagi ...