Selasa, 09 April 2019

Istri Bill Gates Ungkap Tips Cara Mengatasi Stres untuk Orangtua Bekerja

Menjadi pekerja sekaligus orangtua tentu bukan hal yang mudah. Meski tak selalu diperlihatkan pasti ibu dan ayah pernah merasa stres dengan kedua peran mereka. Hal itu bahkan dialami oleh istri dari orang terkaya Bill Gates. Bertugas sebagai ibu dari tiga anak dan mengurus banyak pekerjaan lain, Melinda Gates punya trik mengurangi stres yang bisa diterapkan para orangtua.

Melinda Gates dikenal sebagai filantropis salah satu badan amal terbesar di dunia bersama sang suami. Selain itu, Melinda juga punya beberapa pekerja lain, salah satunya memimpin Pivotal Ventures. Perusahaan tersebut diketahui menginvestasi dan menginkubasi berbagai proyek termasuk yang dipimpin oleh para wanita. 

Baca juga : Satu Hal Ini yang Bikin Wanita Indonesia Susah Naik Jabatan Jadi Bos

Meski suaminya adalah orang terkaya, jadwal Melinda di keseharian sangat padat. Melinda pun kerap bepergian dan bertemu dengan para pemimpin dunia. Belum lagi dengan sejumlah meeting yang harus dihadiri hampir setiap harinya.

Punya banyak hal yang harus diurus, pekerjaan tersulit Melinda tentu adalah menjadi seorang ibu dari tiga anaknya yang kini beranjak dewasa. Untuk tetap sehat secara fisik dan mental, Melinda pun punya cara untuk mengatasi stres. Yakni dengan meditasi selama beberapa menit saja setiap harinya. 

Menariknya, meditasi tidak dilakukan setelah atau sebelum tidur seperti kebanyakan orang. Melinda Gates justru melakukannya sebelum pulang ke rumah setiap sore dengan bantuan aplikasi. "Aku sendiri menggunakan Headspace, aplikasi meditasi. Dan itu 10 menit sehari," ungkapnya dilansir Business Insider. 


Saking sibuknya, kadang Melinda tidak punya rehat 10 menit untuk melakukan meditasi. Ketika itu, ia akan membagi sesi menjadi dua. "Kamu bisa menyelipkan lima menit meditasi di pagi hari dan lima menit lagi di sore hari sebelum kamu pulang ke rumah setelah bekerja. Itu bisa menenangkanmu. Terutama ketika kamu sibuk atau stres di kantor, itu akan membantumu lebih memahami anak ketika kamu pulang ke rumah," tambahnya. 

Baca juga : Tantangan Anak Muda Indonesia Capai Puncak Karier Menurut Para Leader

Meditasi 10 menit sehari pun dirasakan Melinda Gates bisa mengurangi stres, meningkatkan fokus, hingga memperbaiki kualitas tidur. "Dan semakin baik tidurmu, semakin berkurang stresmu," tutur Melinda Gates. 

Rahmi Anjani
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Senin, 08 April 2019

Kisah Inspiratif Kehidupan Nyata Seorang Jack Ma

Jack Ma terlahir pada tanggal 10 September 1964 di Provinsi Hangzhou. Pria ini melalui masa kecil yang tidak mudah karena berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dia pun memutar otak supaya dapat menjadi orang yang sukses.

Saat umurnya 12 tahun, Jack Ma berusaha mempelajari bahasa Inggris secara autodidak dengan mendengarkan siaran radio. Tak hanya itu, setiap hari dia pergi ke Distrik West Lake untuk bertemu dengan turis asing dan menawarkan menjadi pemandu gratis supaya dia bisa berlatih bahasa Inggris. Hal tersebut dilakukannya kurang lebih selama delapan tahun.

Baca juga : 8 Rahasia untuk Mencapai Karir Yang Sukses

Ketika mendaftar di perguruan tinggi, Jack Ma sempat ditolak berkali-kali oleh universitas pilihannya. Namun, dia tidak menyerah hingga akhirnya bisa diterima di Hangzhou Teachers Institute pada tahun 1988. Sayangnya setelah lulus, dia juga banyak ditolak saat memasukkan lamaran kerja. Dia pun kemudian menjadi seorang guru Bahasa Inggris dengan gaji kecil di sebuah universitas.

Pada tahun 1995, Jack Ma memutuskan untuk pergi ke Amerika sebagai penerjemah. Di sana, dia bertemu dengan seorang kawan yang mengenalkannya pada internet. Saat mencari tentang Tiongkok di internet, dia tidak dapat menemukan informasinya sama sekali. Oleh karena itu, dia kembali ke negara asalnya dan membuat perusahaan yang melayani jasa pembuatan website bernama China Pages.

Usaha yang dijalankan Jack Ma tersebut bisa dibilang cukup sukses. Pada tahun 1998, dia bekerja pada sebuah departemen yang menangani penjualan produk online di bawah Kementerian Luar Negeri Tiongkok. Namun pada tahun 1999, dia memutuskan untuk mundur dari pekerjaan tersebut.

Baca juga : 7 Tips Karir Tanpa Peduli Usia

Setelah itu, dia mengumpulkan beberapa temannya yang bisa diajak kerjasama untuk membuat sebuah perusahaan belanja online, Alibaba. Meskipun pada awalnya perusahaan lain tidak ada yang mau bekerja sama, tapi berkat ketekunan dan kerja keras akhirnya berkembang dengan baik. Bahkan, perusahaan teknologi tersebut mampu bersaing dengan perusahaan raksasa lain seperti Google, Apple, dan Microsoft.

Siapa, sih, yang tidak kenal Jack Ma? Pria asal Tiongkok itu adalah seorang miliarder sekaligus pemilik dari situs e-commerce besar, Alibaba. Dari kisah inspiratif kehidupan nyata Jack Ma ini kamu mengambil suatu pelajaran, yaitu untuk tidak menyerah. Jack Ma ditolak beberapa kali dari universitas yang diinginkannya, dia juga mengalami banyak penolakan saat melamar pekerjaan. Tapi, dia tidak menyerah begitu saja, bahkan terus berusaha untuk mewujudkan mimpinya.

Apakah kamu sekarang sedang kecewa karena mengalami hal yang sama? Kalau iya, sebaiknya jangan terlalu lama berkubang dalam rasa kecewamu itu. Kamu bisa saja ditolak pada hal kecil karena sudah dipersiapkan untuk melakukan hal yang besar.

Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Ini Dampaknya Jika Kamu Terlalu Banyak Buka Tab Browser Saat Kerja

Hampir semua orang membuka browser di komputer saat bekerja. Biasanya para profesional membuka email dan beberapa website terkait tugas. 

Meski begitu, banyak orang membuka beberapa tab sekaligus meski tidak selalu berhubungan dengan pekerjaan, misalnya media sosial. Terlihat seperti sesuatu yang sepele dan tidak mengganggu, tapi menurut pakar buka banyak tab mempengaruhi fokus bahkan mood.

Membuka banyak tab di browser laptop atau komputer ternyata berarti dan berpengaruh lebih dari apa yang kita bayangkan. Hal tersebut adalah salah satu bentuk kebiasaan multitasking seperti saat orang yang menonton televisi tapi masih buka media sosial. Buka banyak tab bisa dikatakan adalah salah satu cara untuk melindungi diri dari kebosanan yang sayangnya justru bisa menggangu kerja.

Baca juga : 8 Rahasia untuk Mencapai Karir Yang Sukses

"Membiarkan banyak tab terbuka berpotensi menghasilkan informasi terlalu berlimpah, yang bisa membuat susah otak manusia dan dari pada menciptakan efisiensi, sering bolak-balik beralih dari satu tugas ke tugas lain bisa menyebabkan rentang perhatian menjadi pendek dan kurangnya kedalaman pada tugas yang sedang dilakukan," kata Dr Daria Kuss selaku pemimpin Cyberpsychology di Nottingham Trent University.

Dr Kuss pun menjelaskan orang membuka terlalu banyak tab untuk dua alasan yang bertentangan, yakni agar efisien saat butuh informasi dari berbagai sumber atau sebuah bentuk penundaan untuk melihat artikel atau video di sela bekerja. Kebiasaan ini pun bisa menjelaskan mengenai kepribadian seseorang. Dikatakan bahwa orang yang suka membuka banyak tab browser internet telah terjangkit FOMO (Fear of Missing Out).

"Orang-orang takut ketinggalan informasi jadi mereka membuka banyak tab. Ini seperti 'aku akan ketinggalan sesuatu' jika aku menutup satu tab," tutur Dr Kuss.

Baca juga : 7 Tips Karir Tanpa Peduli Usia

Selain FOMO, kebiasaan buka banyak tab bisa menandakan bagaimana otak Anda bekerja. "Komputer atau handphone kita telah menjadi kepanjangan dari otak kita. Mereka telah menjadi tambahan dari memori atau sumber kreatif kita. Banyaknya tab adalah versi lain dari memori kita bekerja. Kita memperlakukan komputer kita seperti mereka punya kapasitas tidak terbatas, seperti otak kita," kata Marc Hekster, Consultant Clinical Psychologist di The Summit Clinic.

"Tapi ketika kita membuat kewalahan otak, kita menjadi lelah, mudah lupa, mudah kesal. Ketika kita terlalu banyak tab, halamannya melambat, dan komputer atau ponsel kita akan jadi kurang efisien. Ketika kita lupa untuk menutup tab, mereka akan menggunakan memori yang bekerja. Membiarkan tab terbuka, itu akan selalu di sana. Jadi kita melihatnya sebagai kerakusan emosi, merendahkan limitasi diri (dan komputer) kita sendiri," tambah Hekster.

Untuk itu, disarankan untuk hanya membuka yang diperlukan saja agar otak bisa bekerja maksimal. Karena sangat otak terlalu banyak terstimulasi, Anda bisa kelelahan mental yang menyebabkan perasaan tertekan dan justru membuat pekerjaan terhambat.

"Walaupun kemudahan mendapatkan informasi memfasilitasi pekerjaan kita, itu juga menyela kemampuan kita untuk fokus pada satu hal. Membuka tab bisa membuat gangguan tidak penting yang meningkatkan kecemasan dan tingkat stres, terutama ketika ada deadline di kantor," ungkap terapis Lorena Ramos, MA, LCSW dikutip Bustle. 

Rahmi Anjani
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Bukan Orang Pintar, Bos AirAsia Bocorkan Kriteria yang Dicari Perusahaan

Kepintaran tentu dibutuhkan untuk bisa sukses dalam pekerjaan. Namun kadang nilai tinggi atau lulus dari universitas bergengsi saja tidak cukup untuk membuat seseorang bisa diterima di perusahaan besar. Hal tersebut diungkap oleh bos AirAsia, Tony Fernandes. Ia mengaku jika nilai akademis bukanlah yang dicarinya ketika menerima pegawai baru tapi orang-orang 'lapar'.

Hal tersebut disampaikannya ketika mengisi konferensi Money 20/20 di Singapura. Dalam acara itu, Tony Fernandes mengungkap alasan utama mengapa AirAsia menjadi salah satu perusahaan paling menarik di Malaysia. Menurut Tony, kuncinya adalah pada perekrutan. Ia mengaku selalu mencari 'orang-orang yang lapar' dan 'ingin membuktikan'. 

Baca juga : 8 Rahasia untuk Mencapai Karir Yang Sukses

"Jika kamu melihat semua orang dalam timku, banyak orang yang tidak pernah berhasil dan tidak pernah diberi kesempatan (sebelumnya). Kami punya yang banyak orang yang meninggalkan sekolah di usia 13 tahun yang sangat senior di perusahaan kami. Aku mencari orang dengan dorongan dan ingin membuktikan sesuatu," kata Tony dilansir Business Insider.

Dalam kamusnya, lulus dengan nilai cemerlang atau dari universitas 'Ivy League' tak selalu dibutuhkan saat mencari pegawai. Tony pun menambahkan jika orang tersebut juga perlu punya kemampuan komunikasi yang baik dan bisa bekerja dalam tim. 

Selain itu, Tony juga mengungkap strateginya dalam membangun AirAsia hingga sesukses sekarang. Beberapa di antaranya adalah dengan membangun transparansi dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan siapa pun serta kapan pun. "Semua orang di AirAsia bisa berbicara denganku. Tidak ada hirarki," tambah pria 54 tahun tersebut.

Baca juga : 7 Tips Karir Tanpa Peduli Usia

Selain itu, menurutnya penting pula untuk mengapresiasi para karyawan. Misalnya dengan membiarkan mereka berkembang secara personal hingga mengajak jalan-jalan. 
"Banyak perusahaan tidak sadar aset terbesar mereka -dan ini adalah salah para akuntan- yakni pegawai mereka. Itu bukan angka yang bisa kamu taruh di neraca tapi semua orang butuh atensi dan apresiasi atas apa yang mereka lakukan. Dan aku pikir kami bagus dalam itu," ungkap Tony.

Rahmi Anjani 
Sumber 

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Minggu, 07 April 2019

Perusahaan Ini Beri Cuti 3 Bulan dalam Setahun untuk Karyawannya, Tertarik?

Berapa jumlah cuti di kantormu? Umumnya jumlah cuti di setiap perusahaan di Indonesia berjumlah 12 hari dalam setahun. Hanya ada beberapa perusahaan yang memberikan jumlah curi lebih dari itu.

Apa jadinya jika sebuah kantor memberikan waktu 'libur' selama tiga bulan namanya dalam satu tahun? Ini terjadi di perusahaan Ernst & Young Australia. Fasilitas ini disebut 'Life Leave'.

Dilansir dari Business Insider, para karyawan menggunakan jatah Life Leave tersebut untuk traveling, hingga kursus. Namun sayangnya, selama tiga bulan itu karyawan tidak dibayar oleh perusahaannya.

Untuk itu, selama tiga bulan tersebut para karyawan diperbolehkan mengambil kontrak pekerjaan part-time atau menjadi freelancer. Pengalaman pekerjaan baru yang dijalani karyawan juga akan menambah wawasannya. Hal ini juga tetap akan menguntungkan perusahaan.

Baca juga: Tips CT Agar Milenial Jadi Pengusaha Sukses: Jangan Tidur Mulu

Kate Hillman , perwakilan dari Ernst & Young menyebut alasan diadakannya 'Life Leave' adalah kompetisi yang ketat untuk mencari karyawan yang bagus. Fasilitas ini diharapkan menarik perhatian orang-orang untuk bekerja di sana.

Selain itu, perusahaan juga menjaga keseimbangan hidup para karyawannya dalam melakukan hobi di luar pekerjaan. Menurut Kate, penting bagi millenials untuk tetap mengembangkan passion di luar pekerjaan.

"Millenials lebih menyukai fleksibilitas dan pengalaman karir yang banyak dibandingkan sistem kerja tradisional yang terlalu terstruktur," ungkap Kate dilansir dari World of Buzz.

Baca juga : Cari Kebahagiaan, Wanita Ini Tinggalkan Pekerjaan Bergaji Rp 1,6 M

Menurut Kate, penting sekali membuat sistem pekerjaan yang disukai oleh generasi millenials. Akan ada regenerasi di perusahaannya, dan millenials akan mendominasi jumlah karyawan.

"Tahun depan, 80% karyawan EY di berbagai tempat di dunia adalah millenials. Jadi ini menjadi pertimbangan yang sangat berarti untuk kami," tutup Kate. 

Silmia Putri 
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Viral, Kisah Inspiratif Gelandangan yang Diterima Kuliah di Harvard

Selain pintar, mereka yang bisa masuk universitas 'Ivy League' sering kali datang dari keluarga berada. Namun bukan berarti pelajar yang punya latar belakang sederhana tidak bisa diterima. Tengok saja seorang remaja bernama Athena Capo-Battaglia asal New York, AS berikut. Meski tidak punya rumah dan hidup di penampungan, Athena tetap bisa belajar dengan baik hingga diterima di Universitas Harvard.

Kisah Athena diterima di Harvard University viral belakangan ini. Pasalnya Athena datang dari latar belakang keluarga kurang mampu yang bahkan tak punya rumah. Dilansir New York Daily News, ibu Athena tidak bisa membayar sewa rumah hingga harus hidup di penampungan. Apalagi sang ibu mengidap kanker payudara dan neneknya meninggal. Hal ini pun menjadi motivasi Athena untuk giat belajar. 

Baca juga : Kisah Nyata & Haru Gadis 11 Tahun yang Setiap Hari Catat Daftar Biaya Hidupnya

"Aku merasa harus masuk kuliah karena ini (penampungan) bukan tempat yang ingin aku tinggali. Aku seperti, 'Ok, ini adalah cara aku bisa keluar dan mungkin di masa depan bisa dapat pekerjaan bagus" kata Athena. 

Viral, Kisah Inspiratif Gelandangan yang Diterima Kuliah di HarvardFoto: NYPD
Sebelum kehilangan rumah, Athena memang anak yang pintar.PelajarFiorello H.LaGuardia High School of Music & Art and Performing Arts tersebutmendapatIPK 4.0 dan menjadi kapten tim gimnastik. Sekolahnya sendiri adalah sekolah para seniman terkenal, seperti Jennifer Aniston, AlPacino, hingga AnselElgort.
"Aku menelepon temanku dan berteriak, 'Oh Tuhan, aku diterima di Harvard!' Itu sangat menggembirakan. Aku ingin tahu apakah aku bisa masuk. Aku terbiasa menantang dirikuku sendiri. Itulah yang aku lakukan seluruh hidupku," ungkap Athena yang mengaku sedang dalam perjalanan dalam kereta ketika mengetahui kabar baik tersebut. 

Baca juga : Pakai Cara Simpel, Wanita Ini Sukses Kumpulkan Uang Rp 486 Juta

Tak hanya berprestasi di akademis, Athena juga mengikuti program NYPD di mana ia mendapat training untuk membantu menjaga keamanan lingkungan. Berkat program tersebut, ia pun berkemsempatan belajar bela diri, teknik patroli, penanganan pertama kecelakaan, dan lain-lain. Gadis 18 tahun itu pun menjadi salah satu orang yang menerima beasiswa $1,000 (Rp 14 jutaan) dari kantor walikota. 

Kini Athena sudah tinggal di lingkungan kampus Harvard. Mahasiswa yang ingin mengambil jurusan neurosains tersebut berencana untuk kuliah sekaligus bekerja. Dan ketika nanti waktunya liburan, ia akan tinggal di penampungan bersama sang ibu juga menjadi voluntir NYPD. Athena bahkan terpikir untuk bergabung dengan kepolisian setelah lulus. 

"Tergantung pekerjaan apa yang aku putuskan akan paling cocok denganku. Aku benar-benar berencana untuk melanjutkan program bantuan (kepolisian).Pengalamanku sudah sangat bagus. Aku tidak pernah merasa kesulitan sudah selesai. Benar-benar beruntung bisa memberi balasan (kebaikan)," katanya.

Rahmi Anjani
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Jumat, 05 April 2019

Viral Kisah Remaja Belajar 17 Jam Sehari Demi Keluar dari Kemiskinan

Pendidikan tentu menjadi cara paling efektif untuk mengentas kemiskinan. Mengetahui hal tersebut, seorang remaja mendedikasikan masa mudanya untuk tekun belajar. Ia pun menjadi inspirasi bangsa setelah viral karena belajar hingga 17 jam dalam sehari. 

Remaja bernama Zhu Zheng menjadi inspirasi banyak orang karena ketekunannya belajar. Anak 17 tahun asal China tersebut jadi viral terkenal setelah menampilkan jadwal belajar 17 jamnya. Jadwal tersebut bukan termasuk waktu sekolah sehari-hari namun untuk liburan musim dingin. Murid kelas 11 SMP Wuhan 11 di Provinsi Hubei itu memang datang dari latar belakang kurang mampu dan bercita-cita ingin mengeluarkan keluarga dari kemiskinan.

Ketika tiba waktunya semester baru, seorang guru melihat jadwal belajar yang dibuat Zhu Zheng. Dari jadwal itu terlihat jika Zhu Zheng tidak punya waktu untuk liburan dan menghabiskan lebih dari setengah hari untuk belajar. Guru tersebut kemudian membagikannya di WeChat yang kemudian jadi viral.

Baca juga: Farrah Gray, Miliuner Panutan Pengusaha Muda Sedunia

Berdasarkan jadwal, Zhu memulai harinya mulai 6:40 dan mengakhirinya pada 23:50. Di sela-sela hari liburnya tersebut, ia mengambil ekstrakulikuler kelas matematika dan menghabiskan sisa waktu untuk mengulas mata pelajaran. Remaja itu pun hanya istirahat selama 30 menit untuk tidur setelah makan siang dan beberapa menit untuk makan makanan kecil.

"Hidup tidak mengenal liburan musim dingin atau panas. Bukannya sukses datang terlambat tapi kamu tidak cukup tangguh untuk dirimu sendiri," katanya kepada South China Morning Post, 

Zhu Zheng sendiri memang dikenal sebagai murid yang pintar. Ia pernah memenangkan juara pertama kompetisi matematika. Karena itu, ia pun direkomendasikan untuk mengikuti pelatihan intensif di kampus prestis Universitas Tsinghua, Beijing, China. 

Ketika mengikuti training, Zhu Zheng dikatakan menjadi satu-satunya siswa yang memakai seragam karena sudah berjanji tidak akan memberi baju baru selama setahun untuk menghemat uang. Sedangkan untuk memotivasi diri sendiri ia membuat catatan kecil yang berbunyi 'disiplin diri, perkembangan diri', 'belajar dari catatan jangan menyalin catatan', dan 'jangan menyentuh ponsel'. 

Rahmi Anjani 
Sumber

Artikel yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Nyalakan semangatmu !

Hai sahabat, bagaimana kabarnya? Semoga sehat dan baik selalu ya. Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini memang sangat berpengaruh bagi ...